Sabtu, 22 November 2014

Hanya Kicaumania Sejati yang Berani Taklukkan Branjangan

Mirafra Javanica
JAKARTA (KM) - Kelas Branjangan (Mirafra Javanica) di ajang lomba burung berkicau di Indonesia, khususnya di kawasan Jabodetabek akhir-akhir ini kembali semarak,. Dampaknya, di pasar burung-pasar burung makin mudah menemui burung ini.

Kicaumania yang ingin atau sudah memelihara Branjangan, rata-rata terkesima dengan kicauan Branjangan yang sangat bervariasi, volume keras, suara kristal, dan gaya hoovering (terbang vertical sambil berkicau) yang khas.

Merawat Branjangan sangat simple alias tidak ribet dan cocok buat para kicaumania yang sibuk. Cukup kasih kenari seed dan EF secukupnya,” ujar Martinus, pemilik Branjangan Fortune.

Untuk diketahui, saat ini yang beredar di pasaran ada dua jenis Branjangan berdasarkan habitatnya, yaitu dari Jawa dan Nusa Tenggara Barat (NTB). Entah karena sudah semakin jarang atau punah, Branjangan Jawa makin sulit didapatkan di pasar-pasar burung dibandingkan Branjangan NTB.

Tak heran jika harga Branjangan Jawa sangat mahal jika dibanding dengan Branjangan NTB yang relatif jauh lebih murah. Ada yang beranggapan, Branjangan Jawa lebih bagus daripada Branjangan NTB baik dari sisi fisik dan suaranya. Namun bagi sebagian Branjangan mania, apapun jenisnya, tidak perlu dipersoalkan. Karena tidak ada perbedaan signifikan antara kualitas branjangan dari Jawa dan NTB.

Harga Branjangan bakalan bervariasi mulai dari Rp50 ribu hingga di atas Rp1 juta. Secara umum, harga anakan yang jinak karena diambil sejak lolohan akan lebih mahal dibanding dengan yang ditangkap di alam yang sudah dewasa.

Sebagian besar Branjangan mania lebih senang memelihara yang jinak karena lebih cepat beradaptasi dan berkicau serta tidak takut dengan keberadaan manusia. Sebagian lagi lebih senang memelihara yang sudah dewasa di alam karena yakin sudah memiliki dasar lagu yang diperoleh dari habitatnya serta memiliki volume yang lebih keras.

Sebenarnya, untuk memelihara Branjangan dibutuhkan ekstra kesabaran yang sangat besar karena sifat-sifat liarnya yang tidak mudah ditaklukan. Untuk membuat Branjangan bakalan menjadi gacor, dibutuhkan waktu yang sangat lama, bahkan tahunan.

“Kesulitan utamanya adalah bila merawat Branjangan bahan atau obyokan. Karena untuk dapat mendengar Branjangan ngeriwik saja membutuhkan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun apalagi buat Branjangannya gacor, njambul dan ngeleper hingga hovering.  Jadi sangat membutuhkan kesabaran,” ungkap Martinus.

Sebab, untuk membuat Branjangan ngeplong atau gacor, diperlukan waktu yang sama dengan dua kali masa mabung atau berumur di atas 1,5 tahun tergantung kondisi mental burung. Tidak sedikit orang yang merawat Branjangan tahunan hasilnya hanya ngeriwik saja dan berjambul hanya jika dijemur, bukan jambul paten.

Tak heran, jika seseorang yang berhasil membuat Branjangan menjadi mapan layak dijuluki kicaumania sejati. Karena untuk membuat Branjangan mapan, tidak semudah dibandingkan burung-burung lainnya yang dilombakan.

Mirafra Javanica
Butuh Mental Baja untuk Menjinakan

Branjangan yang masih bakalan, biasanya masih liar atau giras. Karena karakter itu dibutuhkan Branjangan di alam bebas yang biasa di persawahan atau perkarangan. Memelihata Branjangan yang masih sangat giras di dalam sangkar, sangat rawan mati, karena sifat girasnya itu yang sering menyebabkan bulu rusak dan luka serius di bagian kepala. Branjangan dipastikan akan sangat panic dan terus berusaha kabur karena belum terbiasa berdekatan dengan manusia.

Karena itu, mau tidak mau, suka tidak suka, Branjangan bakalan harus dijinakkan terlebih dahulu sebelum kita mengharapkan mendengar kicauannya. Setidaknya, Branjangan minimal jinak lalat dan tidak takut lagi melihat manusia agar terhindar dari luka tersebut.

“Proses penjinakan branjangan bakalan yang masih muda relatif lebih mudah daripada burung branjangan bakalan yang sudah dewasa atau sudah berumur,” ujar Ardi RL, pemilik Branjangan Mio.

Merangkum dari pengalaman beberapa Branjangan mania, tips ini bisa Anda terapkan saat memutuskan inging merasakan tantangan merawat Branjangan yang masih bakalan:

Agar peluang jinak lebih besar, Branjangan sebaiknya tidak ditempatkan di dalam sangkar panjang yang biasa untuk Branjangan. Idealnya, menggunakan yang lebih pendek seperti sangkar lark atau pailing, atau apapun yang masih memungkinkan menaruh pasir di dasar sangkar.

Untuk pakan jangan disediakan (stok) terlalu banyak, karena menghambat proses keterbiasaan berinteraksi dengan manusia. Sebaiknya, pelan-pelan diajarkan makan extra fooding (EF) dari tangan manusia.

Untuk memperbesar peluang Branjangan bersedia memakan/mengambil makanan dari tangan manusia, usahakan Branjangan tidak selalu dalam keadaan kekenyangan. Karena jika Branjangan merasa lapar, dia akan dengan terpaksa mengambil makanan dari tangan manusia.

Pakan yang baik selama proses penjinakan Branjangan adalah EF seperti jangkrik dan belalang hijau, yang langsung diberikan dari tangan kita. Dengan begitu Branjangan akan makin terbiasa dengan pelayanan perawatnya.

Penempatan gantangan juga turut mempercepat proses penjinakan Branjangan. Khusus Branjangan yang masih giras, sebaiknya gantang di tempat yang ada keramaian atau yang biasa ada manusia lalu lalang.

Misalnya di dalam rumah, sangkar bisa ditaruh di tempat ramai dengan aktivitas keluarga, seperti ruang keluarga, atau dapur yang lebih banyak ada kegiatan manusia, sehingga burung terbiasa dengan aktivitas manusia di sekitarnya. Jika saat proses itu dilakukan reaksi Branjangan sangat panik dan nabrak-nabrak ruji, sebaiknya sebagian sisi sangkar ditutup, hanya bagian depan saja yang terbuka.

Proses mandi terkadang menjadi cara yang ampuh untuk menjinakan Branjangan. Beberapa Branjangan mania menerapkan mandi dengan cara dipegang sambil dimandikan. Dengan makin sering merasakan sentuhan tangan manusia, Branjangan diharapkan makin terbiasa dan menyadari bahwa sentuhan manusia tersebut tidak bertujuan untuk menyakiti.

Setelah beberapa waktu setelah menjalani proses itu, dan Branjangan sudah mulai terlihat jinak, bisa dipindahkan ke sangkar yang dikhususkan untuk branjangan.

“Usahakan Sering menempelnya dengan jenis burung lain yang berukuran kecil, namun suaranya ramai agar Branjangan cepat terpancing untuk bunyi,” ujar Ardi RL.

Mirafra Javanica
Kesabaran Tingkat Tinggi untuk Menggacorkan

Diakui atau tidak, Branjangan merupakan burung yang paling sulit bunyi jika dipelihara. Sejumlah kicaumania mengakui sering membuat sering merasa trauma dalam merawat Branjangan, dan tidak sedikit yang memutuskan tidak akan memeliharanya lagi karena alas an lama sekali berbunyi.

Padahal, sama halnya burung berkicau lainnya, banyak faktor yang menentukan apakah burung akan bersuara atau akan tetap ngeriwik atau malah diam saja. Semua tergantung kemauan si perawat mau memahami karakter Branjangan atau tidak.

Sama halnya burung-burung lainnya, Branjangan akan cepat bunyi jika kondisinya dan waktunya tepat. Branjangan mau bunyi jika lokasi penggantangan, pakan, dan faktor yang menyebabkan stres pada burung hilang.

Mantan Ketua www.kicaumania.or.id (KM) Yogi Prayogi (CJ) tidak segan-segan membeberkan rahasianya di forum KM untuk membuat burung Branjangan cepat bunyi. Menurutnya, Selama ini terdapat persepsi keliru bahwa memelihara burung Branjangan memerlukan waktu yang sangat lama agar mau berbunyi, terutama  burung-burung bahan.

“Anggapan ini tidak benar, sebab juga sangat tergantung dari jenis kelamin (jantan), perawatan, dan pemberian pakan secara tepat,” ujarnya meyakinkan.

Yogi menjelaskan, ada beberapa faktor yang menentukan Branjangan lebih cepat bunyi. Di antaranya pemberian pakan utama sehari-hari, pemberian EF, aktivitas mandi secara  teratur, dan pola penjemuran yang teratur.

Pakan utama untuk Branjangan adalah biji-bijian seperti canary seed, millet, dan gabah-gabahan. Adapun komposisi yang tepat, menurut Yogi yakni canary seed 60%, millet 30%, gabah merah 10%. Sementara untuk EF bisa diberikan jangkrik, kroto dan sebagainya.

Yogi mengatakan, salah satu faktor penentu agar Branjangan mau berbunyi adalah rutin memberikan EF. “Pemberian EF inilah yang sangat menentukan apakah Branjangan akan menjadi gacor atau malah makin liar,” ujarnya.

Yogi menyarankan agar diperhatikan pola makannya, atau urutan pakan yang diberikan kepada Branjangan. Misalnya, dimulai dari jangkrik, kroto, lalu ulat hongkong atau sebaliknya, dimulai dari kroto, jangkrik, kemudian ulat hongkong,

“Silakan Anda berkreasi dan lihat hasilnya. Jika terjadi perubahan, misalnya burung makin gacor dan rajin berbunyi, maka itulah yang harus diterapkan setiap hari dalam rawatan hariannya,” tambahnya.

Bagi burung, mandi menjadi salah satu kebutuhan utama saat di alam bebas. Terbukti burung selalu mencari sumber air untuk membasahi tubuhnya. Mandi merupakan salah satu bagian dari preening, aktivitas yang selalu dilakukan burung.

Preening dapat  diartikan sebagai aktivitas bersolek bagi burung yaitu membersihkan bulu, merapikan bulu, meminyaki bulu-bulunya. Hanya dengan bulu yang bersih dan rapi, burung merasa percaya diri, terutama di depan burung betina.

“Dengan bulu yang bersih dan rapi pula, burung akan rajin berkicau. Ini adalah naluri atau insting, sebagai pegangan bagi para pemelihara burung di mana pun, dan berlaku untuk sebagian besar burung kicauan maupun non-kicauan. Bahkan, perilaku preening pun bisa Anda lihat pada ayam dan itik,” jelasnya.

Yogi menambahkan, Branjangan biasanya tidak mau mandi di tempat yang disediakan khusus. Sehingga, aktivitas mandi bisa dilakukan dengan cara disemprot menggunakan sprayer dan dilakukan minimal 2-3 kali dalam seminggu.

Proses penjemuran juga penting untuk memicu Branjangan cepat berbunyi. Di habitatnya, Branjangan hidup di tempat terbuka, yang setiap hari selalu terkena panas dan terik matahari.

“Meski demikian, tidak berarti burung harus terus-menerus dijemur di tempat panas, terutama jika sinar matahari sedang terik-teriknya. Untuk itu, kita perlu mengamati waktu penjemuran,” ujarnya.

Yogi memaparkan, jika Branjangan terlihat membuka mulut, berarti burung sedang menetralisasi hawa panas di dalam tubuhnya. Ini harus segera diakhiri, dengan cara memindah burung ke lokasi teduh.

“Jangan sampai menunggu burung terkena heat stress atau heat stroke yang bisa memicu kematian pada burung,” paparnya.

 
Mirafra Javanica
Mengenali Branjangan dari Habitatnya

Branjangan adalah burung petengger (passerin) di atas batu yang berasal dari benua Asia dan Afrika. Di Indonesia Branjangan mudah berkembang di daerah Jawa, Irian Jaya, Kalimantan Selatan, Nusa Tenggara dan Bali.

Ciri-ciri Branjangan berdasar daerah asal bisa diketahui dari berbagai aspek. Karena Branjangan baik yang berasal dari Jawa Tengah, Jawa Barat, NTB, dan Sumbawa memiliki cirri-ciri tersendiri.

Branjangan asal Jawa Tengah (Petanahan dan Kali Ori) dan Jogja (Wates) memiliki ciri-ciri yang disukai penggemar Branjangan. Antara lain adalah mental yang baik, body yang besar dan volume suara yang keras dan variasi suara yang beragam, serta corak batik atau warna yang menarik, kemerahan atau kekuningan dengan ukuran tubuh mencapai 12-14 cm.

Sementara Branjangan asal Jawa Barat (Sapan) terkenal dengan suaranya yang nyaring melengking dan kristal, serta jambulnya juga menjadi ciri khas. Branjangan dari daerah Sapan jika dilihat dari fisiknya tidak terlalu besar hanya seukuran 12-13 cm.

Pola batik burung dari daerah Sapan cenderung berpola lebih gelap dengan corak batik yang berwarna hitam hampir serupa dengan branjangan yang berasal dari daerah NTB dan Sumbawa.

Branjangan dari Sri Kayangan, Kulonprogo (Wates) berdaya tarik tinggi karena ciri fisik yang lebih besar dan memiliki warna dan pola batik yang lebih menarik. Sedangkan branjangan dari Nusa Tenggara mempunyai corak warna bulu yang lebih pekat. Ukuran tubuhnya juga tidak sebesar jenis branjangan dari daerah lain, seukuran 10-12 cm.

Namun jika mendapat branjangan habitat tertentu sulit didapatkan, Branjangan mania bisa cukup memakai patokan khusus dalam memilih Branjangan. Yaitu bentuk fisiknya atletis, ekor dan badan panjang, mata tajam menunjukkan petarung, bulu lembut seperti sutra sedangkan paruhnya bagai burung gelatik tapi agak bengkok sedikit ke bawah.

Jumat, 21 November 2014

Toretto, New Comer Mengejutkan di Panglima TNI Cup

Toretto milik Nana 99 dari Depok
JAKARTA,(KM) - Gelaran lomba burung berkicau Panglima TNI Cup yang digarap Ebod Jaya di lapangan Wiladatika, Cibubur, Jakarta Timur, Minggu (9/11/2014) berjalan sukses dengan penjualan tiket di atas 2.500. 
 
Burung-burung berkualitas bersaing dalam lomba ini, dan tidak sedikit merupakan burung papan atas yang menjadi jawara lomba nasional maupun regional di daerahnya masing-masing.

Di event Panglima TNI Cup yang dikomandani Haji Ebod sendiri ini terlihat hampir semua kelas full gantangan, di antaranya kelas Murai Batu, Love Bird, Kenari, Kacer dan Cucak Ijo.

Di kelas murai batu, terlihat persaingan ketat antara burung-burung jawara. Seperti Murai Batu Pelor Mas milik Fitri BKS Samarinda, Murai Batu Gobi gaconya Yadi Suzuki dari Cirebon, Aji Mumpung jagoan Mr. Cakes, dan banyak lagi nama-nama Murai Batu mentereng.

Yang paling mengejutkan adalah Murai Batu Toretto milik Nana 99 dari Depok. Burung "kampung" ini berhasil mecundangi Murai Batu-Murai Batu terkenal di kelas paling bergengsi Kelas Mabes dengan hadiah Rp50 juta.

Toretto memang tidak turun di kelas-kelas lainnya. Alasannya, Toretto baru saja selesai mabung. “Kami tidak berani menurunkan lebih dari sekali, karena Toretto baru kelar mabung dan burung ini masih muda. Toretto juga baru dua kali ini turun di lomba besar,” ujar Oplan, perawat Toretto.

Di Kelas Mabes, Toretto bersaing ketat dengan Murai Batu Pelor mas yang konon nilai transfernya mencapai Rp1 miliar yang harus puas menjadi runner up diikuti Murai batu Gobi di posisi ketiga.

Toretto seakan-akan memberikan shock teraphy pada jawara-jawara di lomba nasional. Dengan materi 70% ngerol dan 30% tembakan, Toretto secara fasih memperdengarkan suara-suara Cililin yang sampai nyeri empat kali, Siri-siri, Serindit dan burung-burung kecil seperti Kolibri dan Burung Gereja.

Nana 99 mengaku, Toretto adalah burung muda hutan tipe ekor panjang dibeli rekannya sendiri di Jakarta yang didatangkan dari kampung di Jawa Tengah dengan harga Rp85 juta.  Meski dari “kampung”, Nana punya keyakinan burung muda yang baru dua kali mabung ini akan mampu berbuat banyak di lomba-lomba besar di Jakarta dari penampakan katuragan dan kualitas ngeriwiknya.

"Kami dulu belinya dari seorang teman juga di Jakarta, ini burung sebenernya dari daerah Jawa tengah. Tapi begitu melihat katuragannya, dan suaranya, kita yakin banget dengan burung ini," ujar Nana.

Terkait rawatan, Oplan menjelaskan, Toretto termasuk murai batu yang mudah perawatannya. Dikarenakan baru saja melewati proses mabung, Toretto masih dalam traf setingan rendah.

"Rawatannya mudah, karena baru saja mabung masih rendah setingannya. Jangkrik standar satu atau dua ekor pagi sore, kalau kroto harus selalu ada setiap hari. Mandi pagi saja," papar Oplan.

Jelang lomba, lanjut Oplan, mandi jadi pagi dan sore, namun jangkrik masih standar seperti harian masih rendah, kroto segar selalu tersedia. Bahkan hingga hari H lomba, jelas Oplan, rawatan Toretto sama sekali tidak dirubah dari biasanya.

Prestasi Toretto ini menjawab keragu-raguan orang terhadap kemampuan murai batu ekor panjang. Terbukti, Toretto mampu memainkan ekornya yang menjuntai dengan lagu-lagunya yang tajam.

"Ini burung usia masih sedang, tidak tua dan tidak muda, dan kakinya pun masih belum kering betul. Toretto memang biasa diturunkan di satu kelas saja untuk sementara ini. Bukan karena tidak kuat, tapi kitanya yang masih takut dan sayang dengan burungnya," ungkap Oplan.

Untuk burung yang kategori belum menorehkan prestasi yang mewah, banyak kalangan menilai pemiliknya, Nana 99 tergolong nekad mengikutsertakan Toretto di kelas yang tiketnya dibanderol Rp1,5 juta itu. 

Nana 99 bersama Oplan dan Fani
Bahkan, Nana 99 mengaku menurunkan Toretto hanya untuk senang-senang saja tanpa mengharapkan koncer melihat nama-nama burung mentereng yang mengikuti lomba kelas Mabes ini.

“Ya tadinya gak ada niatan untuk menurunkan Toretto di kelas mahal itu. Tapi sewaktu kita coba di latberan, kok kerjanya dahsyat, ya langsung aja nyari tiket. Karena hanya berani menurunkan sekali, jadi sekalian aja diikutkan yang paling mahal,” ucap Nana 99 malu-malu.

Burung yang saat ini dipersiapkan untuk event akbar berikutnya ini, pernah mendapat tawaran tertinggi Rp150 juta meski belum menorehkan prestasi gemilang sebelum turun di Panglima TNI Cup. Namun Nana 99 mengaku belum mau melepasnya karena masih sayang.

"Ya kita bukannya menolak rezeki, tapi kita masih sayang dengan Toretto. Apalagi burungnya masih muda, jadi dibuat senang-senang aja dulu. Lagian saya hobi burung juga bukan tipe mencari keuntungan dari burung prestasi, murni buat bersenang-senang saja," Pungkas Nana 99.

MB Muntah dan Nafas Bengek




Tanya:

Klinik Ngeriwikngeplong yang terhormat, mohon pencerahannya, Murai Batu (MB) saya selama ini ngeluarin muntah hitam bulat kenyal seperti sampah jankrik dan nafas sering bunyi ngek-ngek kayak orang bengek itu kenapa ya?

Padahal Murai Batu saya tetap ngeplong dan kelihatan bugar. Adakah obat atau teknik untuk mengatasi masalah pencernaan dan pernafasan tersebut?

Syahputra, Lampung


Jawab:

Murai Batu mengeluarkan muntahan berupa gumpalan adalah hal wajar. Itu merupakan prose salami burung terhadap makanan yang dimakannya tidak mampu dicerna. Terkait warna, biasanya mengikuti apa yang dimakan. Jika berwarna hitam merupakan ampas dari jangkrik yang dimakan, sementara warna lainnya mengikuti warna voer yang dia makan.

Kalau permasalahan pernafasan memang kompleks penyebabnya, manusia saja yang organ tubuhnya besar sulit mengidentifikasi bagian mana yang menjadi penyebab gangguan pernafasan, apakagi burung yang berorgan kecil dan sangat rentan.

Jika berbicara asma, jelas ini faktor keturunan bukan penyakit yang tiba-tiba mewabah ke burung kesayangan kita. Jadi kalau sekarang kita bicara asma pada burung, berarti penyakit itu dibawa sejak piyikan atau anakan, dan baru sekarang kambuhnya.

Penyebabnya bermacam-macam, contoh paling umum karena kontak dengan alergen seperti udara yang terpolusi, pakan dan air minum yg tidak lagi steril di saat kondisi kesehatan dan sistem imun burung yang menurun biasanya di saat itulah asma kambuh. Ini biasanya identik dengan radang organ dalam pernafasan.

Pengobatannya dengan memulihkan organ yang meradang akibat infeksi tersebut dengan menggunakan antibiotik. A-Z berbagai jenis antibiotik ada kok, salah satunya produk Ebod. Ya dicoba aja dulu beli di kios burung, lalu ingat intinya asma kita tidak tahu alergennya apa. Sebaiknya burung dipindah sangkar selama pengobatan, seluruh atribut sangkar seperti sangkar, cepuk, tangkringan, krodong distrelisasi dengan antiseptik.

Ibarat kita sakit kan diopname tuh, jadi burung kita andaikan saja juga diopname. Dikasih ruang yang tenang, diberi obat, dan so pasti diinfus (diberi suplemen multivitamin + air larutan penyegar).

Tapi perlu dicatat, kapan saja penyakit itu bisa kambuh, habitat burung beda dengan habitat kita yang tingkat polusinya tinggi, terutama daerah perkotaan dan perumahan yang dekat dengan kawasan perindustrian.

Memilih Murai Batu Berbakat versi KM

Raja Top - Juara Walikota Depok Cup milik Tedy/Yanto (Cibubur)
JAKARTA (KM) - Bakat, menurut Crow & Crow (1989) bisa dianggap sebagai kualitas yang dimiliki individu dalam tingkat yang beragam. Bakat bisa dimiliki manusia sejak lahir atau hasil dari pelatihan yang intensif pada hal-hal tertentu. Bakat juga dapat dianggap sebagai keunggulan khusus dalam bidang perilaku tertentu. Saat ini telah banyak berkembang tes-tes tertentu yang sering disebut ‘tes bakat' yang dilakukan untuk mengukur atau menelusuri bakat seseorang.

Timbul pertanyaan, bagaimana dengan burung Murai Batu (MB)? Atas dasar pemikiran bahwa ‘MB Istimewa’ dan ‘MB Jawara’ adalah MB-MB yang dibekali oleh bakat-bakat khusus yang telah berhasil digali dan dikembangkan oleh perawatnya.

Maka penting sekali bagi MB mania untuk mengamati, menerawang, menelusuri dan meraba-raba kira-kira bagaimana bakat yang dimiliki oleh seekor MB sebelum membeli dan menjadikannya momongan, baik itu untuk orientasi lomba maupun hanya sebagai klangenan di rumah.

Hal ini menjadi penting untuk menghindari atau setidaknya mengurangi kekecewaan yang timbul akibat salah dalam menentukan pilihan momongan karena tidak sesuai dengan harapan.

Definisi bakat MB bisa berdasarkan katuranggan. Katuranggan berasal terdiri dari dua kata yaitu katur dan angga. Katur berarti menyampaikan, dan angga berarti badan. Jadi katuranggan adalah pengetahuan yang menyampaikan pengertian tentang bentuk–bentuk badan.

Dalam bahasa Belanda, istilah katuranggan dikenal dengan sebutan exterieur (bentuk lahiriah, bagian badan yang nampak di luar).

Untuk menentukan mutu MB mesti dilihat dari katuranggannya. Pendasaran ini tentu saja tidak asal-asalan, karena para pelomba khususnya burung MB sudah melakukan research terhadap kondisi atau ciri-ciri fisik burung juara dari waktu ke waktu dan berdasarkan pengalaman di arena lomba kicau burung.

Perlu dicatat, katuranggan bukanlah insting kicaumania, tetapi merupakan pencapaian hasil research dan pengalaman empirik di lapangan.

Dalam memilih burung MB, jika berdasarkan katuranggan, berbakat dan berprestasi bisa jadi beda cerita. Deviasi untuk katuranggan mungkin cuma 10% saja. Artinya, kicau mania yang memilih menggunakan metode katuranggan, kemungkinan melesetnya cuma 10%.

Karakter burung adalah misteri. Untuk memahami karakter MB memang tidak mudah, karena jelas burung tidak bisa diajak bicara seperti manusia. Karena kemisteriannya itulah, muncul pakem-pakem tertentu untuk mencari dasar bakat dari burung itu sendiri atau bahasa umumnya katuranggan.

Mengenai ciri-ciri tertentu untuk mengenali burung berbakat melalui katuranggan, sebagian besar kicau mania 100% percaya. Ciri-ciri fisik seekor MB yang ditengarai berhubungan dengan bakat-bakat yang dimiliki. Meskipun, hal ini hanyalah cara penilaian kicaumania saja berdasarkan imajinasi dan pengalaman selama ini untuk mengetahui bakat-bakat yang dimiliki seekor MB.

Bakat yang bisa diprediksi berdasarkan katuranggan dan masih bisa dinalar dengan akal adalah volume dan power. Sementara bakat lain seperti mental, gaya tarung, kecerdasan itu masih terus menjadi perdebatan para kicau mania.

Menurut Didiks RRBF, definisi bakat (potensi) adalah sesuatu kelebihan yang dimiliki seekor MB dan ada pada dirinya sejak dilahirkan di atas rata-rata murai umumnya.

"Bakat kecerdasan, kecerdasan ini sangat luas sekali tentunya. Kecerdasan menirukan suara lingkungan, kecerdasan adaptasi, dan kecerdasan-kecerdasan yang lain tentunya. Bakat fighting termasuk tentunya dengan gaya tarung masing-masing," ujar Didiks RRBF.

Didiks RRBF menilai, bakat suara atau type suara misalnya suara ngebas, ada melengking, dan lain-lain, tentunya bakat ini juga punya korelasi dengan panjang-pendek pernafasan.

"Nah, panjang-pendek pernafasan ini saya yang agak bingung. Ini bawaan atau murni bisa dilatih? Di dalamnya terikut juga dengan volumenya. Namun bakat apapun jika tidak dioptimalkan, tidak akan berkembang dengan baik," tukasnya.

Suwarno punya pendapat berbeda. Menurutnya, bakat adalah sebuah talenta dari Tuhan yang diberikan kepada makhluknya untuk mengembangkan diri. Bakat itu sendiri berupa pola pikir, kepandaian atau kemampuan yang dimiliki sejak lahir. Walaupun setiap makhluk memiliki talenta, jika tidak berusaha untuk membukanya maka talenta yang diberikan Tuhan akan menjadi sia-sia.

"Saya percaya setiap burung mempunyai bakat, permasalahannya adalah bagaimana kita mengenali dan mencirikan bahwa burung tersebut mempunyai bakat yang super? Kalau kita belum mengenalnya terlebih dahulu," ujarnya.

Berkaitan dengan bakat pada burung, lanjut Suwarno71, tentu saja burung tersebut harus mengeluarkan talentanya terlebih dahulu, baru dapat diambil kesimpulan bahwa burung tersebut mempunyai bakat atau tidak.

"Lewat talenta tersebut kita dapat mengambil kesimpulan bahwa burung A, mempunyai bakat suara nembak-nembak, burung B mempunyai bakat ngerol, burung C mempunyai bakat volume yang keras (tembus), dan sebagainya. Atas dasar hal tersebut, baru kemudian kita dapat memaksimalkan bakat MB itu," jelasnya.

Pertanyaan selanjutnya, bagaimana cara memilih MB berbakat? Secara garis besar pemilihan MB berbakat biasa dilakukan oleh MB mania dengan dua cara. Cara pertama, dengan memperhatikan tingkah laku dan gaya MB bersangkutan. Cara kedua, dengan memperhatikan atau mengamati bentuk katuranggan yang dipercaya mewakili bakat dari MB.


Memilih MB Berbakat dari Tingkah Laku dan Gaya
MB berbakat bisa dipilih sejak masih trotol dan muda hutan sampai umur kira-kira 3 tahun. Jika setelah umur 3 tahun dan MB itu kelihatan biasa-biasa saja, maka bisa dianggap MB itu kurang berbakat. Namun tentu saja penilaian ini bisa salah, karena bisa jadi MB itu selama 3 tahun dipelihara dengan kurang tepat dalam perawatannya.

Buldozer - Juara KM Cup VIII milik Jimy dari Tri Star Surabaya
Untuk MB-MB muda, yang didahulukan adalah melihat mentalnya. Setelah MB menunjukkan setengah jadi atau jadi, barulah bisa dipantau isian, gaya dan konsistensi kinerja. Tingkah laku ketika MB sedang bersatu dengan yang lain (ombyokan), MB berbakat haruslah kelihatan sigap, waspada tapi tidak ‘grapyak-grupyuk’ alias pecicilan.

Mb berbakat, meski kelihatan takut orang, tapi cara bergeraknya tidak merusak fisiknya (nyungsepkan muka ke jeruji, ekor dan sayap amburadul kena jeruji), MB yang seperti itu bisa dianggap kurang berbakat.

Namun, ada MB berbakat yang bergaya seperti itu dengan catatan MB itu baru ditangkap. Di sini jangan disalahartikan pula bahwa MB yang takut orang adalah MB kurang berbakat, sebab ada MB-MB bagus bahkan MB juara yang masih takut orang ketika belum digantang. Namun setelah digantang MB itu tidak lagi memperdulikan orang, tapi memperdulikan lawan-lawannya.

Mb berbakat tingkah laku ketika MB sendirian di sangkar biasanya tetap berada di tangkringan ketika dilihat orang. Sikapnya waspada, sesekali ekor naik turun (meski belum mengeluarkan suara). Lebih bagus lagi dengan sikap seperti itu MB mau mengeluarkan suara.

Prinsipnya, MB berbakat meski masih belum jinak, dia akan berada di tangkringan atau ke jeruji sangkar, bukan ndelosor di dasar sangkar. MB-MB berbakat sangat jarang untuk turun di dasar sangkar dengan posisi seperti mau sembunyi alias ngumpet.

Selain itu, MB akan lebih bagus jika mengeluarkan suara ketrekan dan sikapnya siaga walaupun masih dalam ombyokan dan selalu kembali ke tangkringan atau dinding sangkar dan jarang diam di bawah. Karena jika ketrekannya keras dan beruntun, bisa dipastikan suaranya keras. Namun MB yang ketrekannya sedang atau kecil, belum tentu bersuara sedang atau kecil, bisa saja MB itu bersuara keras.

Biasanya MB yang ketrekannya keras mentalnya bagus. Namun hal ini juga tidak bisa dipastikan, karena mental parameternya relatif dan banyak juga MB-MB bersuara sedang atau bahkan kecil namun bermental sangat bagus. Malahan MB seperti ini bisa 'ngedur' kerjanya.

Ari JB punya pandangan sendiri, yaitu melalui tatapan MB tersebut. Tampang garang, tatapan mata tajam, ini cuma bisa dirasakan oleh yang menatap langsung. "Apa MB tersebut berani bertatap muka dari segala arah?" ujarnya.

Selain itu, lanjut Ari JB, pola tidurnya juga bisa diamati saat masih di dalam ombyokan. "Sebaiknya memilih yang tidurnya selalu di tangkringan yang paling tinggi (kalo ombyokkan)," tuturnya.

Saat MB sudah sendiri, bisa dipantau ngeriwiknya apakah diiringi isian-isian atau suara-suara master bukan suara MB, tentu dengan lagu yang panjang-panjang. "Dengarkan kejelasan artikulasi dia menirukannya (sejelas apa), volume mungkin belum keras tapi paling tidak terdengar kasar-kasarnya," pungkasnya.

Hal senada disampaikan Leo Andrie. MB berbakat bisa dilihat dari cara MB memandang kalau kita dekati dan kita tatap matanya. "Apakah dia bersikap siaga dan MB tersebut berani menatap kita lebih lama walaupun terbang sesekali?" ucapnya.

Leo Andrie menambahkan, apabila MB MH di dalam kelompok yang disatukan/ombyokan, pilih yang dominan. Misal apabila ada MB lain yang mendekat dia langsung mengusirnya (biasanya dipatuk). "Selain itu pilih yang makannya rakus," tutupnya.
Sementara Suwarno menyarankan untuk memperhatikan bagaimana cara berdirinya MB tersebut. Apakah burung tersebut berdiri dengan posisi 45 derajat dengan ekor melengkung kebawah? 45 derajat dengan ekor proporsional? 90 derajat dengan ekor proporsional atau membungkuk seperti orang ketakutan? karena itu juga menentukan karakter MB.

"Juga bisa dari bagaimana cengkeraman kakinya (bukan warna kakinya). Apakah mencengkram tangkringan dengan kuat atau sekedar menempel saja di tangkringan. Biasanya yang menyengkram kuat itu lebih baik," jelas Suwarno.


Memilih MB Berbakat yang Setengah Jadi atau Jadi
Untuk memilih MB berbakat yang setengah jadi atau jadi, Yogi Prayogi menyarankan untuk memantau di Latber. Kalau rajin ke Latber baik memantau sendiri atau lewat orang yang dipercaya, maka akan dapat menemui MB berbakat. "Kalau jeli, tidak harus juara, kadang stelannya kurang bagus si MB gak juara, namun kita percaya bahwa MB tersebut prospek," jelasnya.

Untuk menentukan tolak ukur volume MB, Yogi menyarankan cukup dengan feeling. Kalau tanggap dengan mendengarkan suara hariannya saat bunyi, akan terlihat si MB mempunyai suara keras atau tidak. "Dengan menempel dengan MB lain. Bisa juga kita kumpulkan MB temen, terus adu beberapa MB tersebut, ini akan terlihat volume di antara MB-MB itu," ujarnya.

Raden 66 - Juara Jatijajar Cup milik Black dan Nurul
Sementara Surawan menyarankan cukup dengan mengamati tingkah lakunya dan volume. Kalau terlihat mapan dan berani serta volumenya tembus, maka MB ini adalah MB yang berbakat. "Cara ini akan lebih mudah kalau kita datang ke Latber atau lomba kecil, di situ kita bisa dengar mana MB yang volumenya keras dan tingkah lakunya mapan dan berani, walaupun MB itu tidak juara," tuturnya.

Hal senada disarankan Danang Penthol yang cukup mendengar suaranya MB baik cuma ditrek atau saat di gantangan. "Mana nih yang kenceng dan lihat, mana nih yang mentalnya langsung DOR! begitu buka krodong, lihat lawan langsung DER!!!" tegasnya.


Memilih MB Berbakat dari Hasil Penangkaran 
Untuk trotol penangkaran, sebenarnya relatif lebih sulit, karena trotol penangkaran relatif sudah terbiasa dengan lingkungan manusia, gayanya lebih tenang dan lebih mapan daripada trotol muda hutan.

Namun tentu saja meski lebih tenang dan lebih mapan daripada trotol hutan itu bukan berarti trotol penangkaran lebih berbakat daripada trotol hutan yang kurang tenang. Untuk MB ring, ada tips yang paling gampang, yakni dengan memilih MB trotol ring yang indukan jantannya pernah juara (minim Latber) dan betinanya juga tangguh. Pemilihan MB ring seperti ini mempunyai peluang besar menemukan MB berbakat.

Meski begitu, bukan berarti indukan non juara, keturunannya tidak ada yang berbakat. Setidaknya, dengan indukan jantan juara dan indukan betina bagus, peluang cukup besar menemukan MB berbakat. Namun dewasa ini pola rawatan juga cukup menentukan hasil kualitas dari trotol penangkaran. Karena terbukti, MB ring sudah mulai menunjukkan taringnya baik di lomba skala kecil dan skala nasional.

Meski tergantung kualitas indukannya, tetapi tetep saja harus dilihat kriteria "memilih MB berbakat" pada MB tersebut walaupun indukannya jawara. Karena tidak jaminan 100% pasti berbakat.

Pelor Mas - Juara Piala Raja 2014 milik Fitri BKS Samarinda
Pengetahuan tentang bakat sangat penting sekali dalam dunia burung khususnya MB. Kita mengetahui si MB berbakat bila MB bahan atau trotol adalah seperti telah dijelaskan oleh rekan-rekan KM di atas, seperti; ketrekan, volume, daya tempur walau masih bahan atau trotol, rajin ngriwik atau bunyi dan sebagainya.

Pengetahuan mengenai katuranggan juga sangat penting bagi penggemar burung khususnya MB, karena dapat dijadikan pegangan penting untuk memilih dan meramalkan prestasi burung MB tersebut.

Namun, kembali lagi bahwa dari sudut pandang manapun kita berpendapat, semua ada benarnya dan juga ada salahnya karena kemisteriannya itu. Sekali lagi, karakter burung adalah misteri.



Berikut ciri-ciri umum yang digunakan kicaumania dalam mencari MB berbakat berdasar pada katuranggan:

  • Postur kaki yang jangkung dan jari-jari panjang dan cengkraman yang kuat.
  • Warna kaki tidak masalah tapi type kaki yang kering (seperti sudah berumur).
  • Kaki kokoh, warna tidak masalah kalau dapat yang hitam lebih baik.
  • Mata yang besar bulat dan sorot mata yang tajam dan jernih.
  • Kepala besar bentuk papak.
  • Bentuk kepala seperti kepala ular (bentuk atas kepala mengikuti buletan mata).
  • Paruh panjang dan lurus atau mblimbing.
  • Leher panjang dan besar.
  • Badan cenderung lebih pendek dari lehernya.
  • Lengan sayap yang terlihat kokoh.
  • Dari depan dada yang cenderung kecil membesar dipinggang atau pangkal ekor.
  • Ekor sedang, lurus dan kokoh, kalo panjang yg lemes tp kokoh dipangkal serta agak lengkung ke bawah.
  • Warna dada untuk MB ekor pendek lebih disukai yang terang. 
  • MB yang tongkrongannya gagah, tulang kakinya keker cenderung memiliki daya tempur yang bagus.
  • Paruh tebal dan ceper dinilai punya bakat suara yang keras dan pedas.